Berawal dari rasa Penasaran saya terhadap orang2 yang sukses di masa silam serta bagaimana cara meneladani sikap akhlak terpuji sebagai seorang manusia kita selaku manusia wajib mencontohnya, terlebih yang hidup dilingkungan pendidikan, sudah seharusnya kita meneladani sikap orang-orang yang berakhlak terpuji, mudah-mudahan Allah menjadikan kita orang-orang yang terpuji didunia maupun di akhirat Amin ya Robbal alamin.
Yang hendak saya ceritakan di sini adalah tentang Ubadah dan ayahnya,
Al-Walid putra Ubadah bin Ash-Shamit, salah satu sahabat Rasulullah yang
terkenal. Ayah dan anak itu (Ubadah dan Al-Walid) mempunyai kegemaran
menuntut ilmu bersama-sama. Hingga suatu ketika mereka sampai pada
daerah yang ditempati kalangan kaum Anshar. Di tempat itu mereka pertama
kali bertemu dengan Abu Al-Yusri, salah seorang sahabat Nabi Shallallahu `alaihi Wa Sallam, yang
ditemani oleh anak laki-laki yang jadi pembantunya.
Bertemu dengan sahabat Rasulullah, bagi ayah dan anak itu, merupakan
karunia dan kesempatan yang berharga. Apalagi dalam perjalanannya itu
mereka berdua sama-sama sedang mencari ilmu. Sementara itu, Abu Al-Yusri
dan pembantunya juga sedang melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu.
Hal ini tampak pada barang bawaan si pembantu yang penuh dengan buku dan
lembaran kertas “Aku melihat tumpukan kertas yang dijepit yang dibawa
mereka,” kata Ubadah bin Al-Walid.
Yang menakjubkan lagi ialah pakaian Abu Al-Yusri dan pembantunya yang sama-sama memakai mantel dan pakaian jenis mu’afiri.
Jadi, jika dipandang, keduanya tak tampak perbedaan antara tuan dan
pembantu. Abu Al-Yusri tak ingin perlakuan berbeda pada pembantunya. Pun
dalam tradisi Arab, pakaian yang serupa saat dipakai dalam menempuh
perjalanan akan menunjukkan keserasian dan keindahan.
“Wahai paman,” sapa Al-Walid kepada Abu Al-Yusri, “aku melihat guratan-guratan wajahmu ada bekas kemarahan.”
“Benar,” kata Abu Al-Yusri. Lalu ia bercerita,“Fulan bin Fulan punya
hutang kepadaku. Aku telah mendatangi rumahnya. Setelah mengucapkan
salam, aku bertanya, ‘Sedang dimana dia?’ Keluarganya menjawab, ‘Dia
tidak di rumah.’ Tak lama kemudian muncul bocah kecil, yang tampaknya
anaknya, di hadapanku. Aku tanyai bocah itu, ‘Di mana ayahmu?’ Bocah itu
menjawab, ‘Ketika ayah mendengar suaramu, dia sembunyi di kamar ibu.’
Lalu aku berteriak keras, ‘Ayo keluarlah kamu, aku tahu kamu ada di
mana.’ Tak lama kemudian laki-laki itu keluar dari tempat
persembunyiannya.
Setelah muncul di hadapanku, aku tanya dia, ‘Kenapa kamu sembunyi?’
‘Demi Allah,’ sumpah lelaki itu, ‘aku sebenarnya ingin bicara denganmu
dan tak ingin membohongimu. Demi Allah, yang aku takutkan saat bicara
denganmu adalah saat aku membohongimu. Aku telanjur berjanji kepadamu,
tapi aku mengingkarinya. Sedangkan kamu adalah sahabat Rasulullah. Aku
sendiri, demi Allah, saat ini masih kesulitan ekonomi.’
‘Demi Allah, apa yang kamu katakan itu benar?’ aku menyumpah lelaki itu. ‘Demi Allah, benar!” jawab lelaki itu.
Tiga kali aku menyumpah lelaki itu itu. Tiga kali dia menjawabnya sama.
‘Baiklah’, kataku akhirnya, ‘ini catatan hutangmu aku hapus dengan tanganku sendiri.’
Kataku lagi: jika suatu saat kamu ada rezeki untuk melunasi hutangmu,
bayarlah segera. Jika tidak, hutangmu tetap kubebaskan. Sungguh, aku
telah melihat dengan mata kepalaku sendiri (sambil menunjuk matanya),
aku telah mendengar dengan telingaku ini, dan hatiku menerimanya dengan
bahagia (sambil menunjuk hatinya), ketika Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam. bersabda, ‘Barang
siapa yang menangguhkan hutang orang yang tak mampu, atau menghapus
hutangnya, Allah akan menaunginya dengan naungan-Nya. ‘”
Setelah menyimak cerita ini Abu Ubadah bin Walid berkata, “Wahai paman,
sendainya kamu mengambil mantel milik pembantumu, kemudian kamu
menggantinya dengan pakaian jenis mu’afiri, atau kamu mengambil mu’arifi-nya si pembantu lalu kamu memberinya mantel, maka baju yang kalian kenakan akan sama-sama serasi.”
Abu Al-Yusri mengusap kepala Abu Ubadah lalu berkata, “Semoga Allah
melimpahkan keberkahan pada kita. Wahai putra saudaraku, sungguh, aku
telah melihat dengan mata kepalaku sendiri (sambil menunjuk matanya),
aku telah mendengar dengan telingaku ini, dan hatiku menerimanya dengan
bahagia (sambil menunjuk hatinya), ketika Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam. bersabda, ‘Berikanlah mereka makanan seperti yang kalian makan. Berikanlah mereka pakaian seperti yang kalian pakai.’ Harta yang aku berikan pada seseorang lebih mudah bagiku daripada seseorang akan mengambil kebaikanku pada hari kiamat.”
Kisah yang saya terjemahkan dari hadis Shahih Muslim ini mengandung
pelajaran agar seseorang senantiasa menuntut ilmu dengan teliti, dengan
tidak mengenal batas usia dan waktu. Juga mencontohkan bagaimana
beretika yang mulia, menghapus perbedaan dan memberikan penghormatan
bagi yang “di bawah”, memberikan kelonggaran bagi orang yang hutang
serta menunda pembayarannya bagi yang masih dililit kesulitan ekonomi.
Semoga Allah Swt memberikan kita kelapangan waktu dalam menuntut ilmu, terlebih saya selaku manusia biasa ingin berpesan kepada semua pembaca dan kepada seeluruh civitas Universitas Potensi Utama untuk teruk meningkatkan kualitas ilmu iman dan takwa kita, semoga Allah Swt mempertemukan kita di akhirat dalam keadaan yang membahagiakan. amin ya Robal alamin...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar